Sabtu, 26 September 2015
Mukhlis Wibowo: Menikmati Magetan Dengan Sederhana, Karena Sepotong Surga Ada Disekitar Kita
Jumat, 25 September 2015
Mukhlis Wibowo: Cinta Terindah Mengajariku Menemukanmu
Selasa, 22 September 2015
Mukhlis Wibowo: Mengenang Idul Adha Ditahun 2000 an.
Selasa, 04 September 2012
Batik Sidomukti aran Pring Sedapur

Magetan selain mempunyai potensi wisata telaga sarangan ternyata juga mempunyai Batik asli khas magetan.
Orang menyebutnya Batik Sidomukti / Batik Pring, karena memang motif dari batik yang satu ini adalah bambu (pring : dalam bahasa jawa).
Batik ini bisa ditemukan di Dusun Papringan, Desa Sidomukti, Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan.
Sebuah perkampungan di bawah lereng gunung lawu.
Batik ini telah diproduksi sejak tahun 1970-an Sekilas, Batik Sidomukti tidak jauh berbeda dari batik daerah lainnya. Namun, sebenarnya
Batik Sidomukti Magetan mempunyai ciri khusus pada motifnya, yakni motif “Pring Sedapur” atau serumpum bambu. Motif ini diambil dari rumpunan tumbuhan bambu yang tumbuh mengelilingi kawasan Dusun Papringan di Desa Sidomukti.
Motif Sidomukti. mengandung makna kemakmuran. Demikianlah bagi orang Jawa, hidup yang didambakan selain keluhuran budi, ucapan, dan tindakan, tentu agar hidup akhirnya dapat mencapai mukti atau makmur baik di dunia maupun di akhirat. Untuk membuat sebuah batik sidomukti diperlukan kesabaran dan ketelitian.
Pembatik di Desa Sidomukti mengaku tetap mempertahankan keaslian proses pembuatan batik secara tradisional. Tak heran jika pengerjaan sebuah batik membutuhkan waktu empat hari hingga satu minggu lamanya.
Batik Pring Sedapur Magetan ini telah dijadikan sebagai salah satu ikon Kabupaten Magetan. Belasan ribu pegawai negeri sipil di seluruh Magetan telah memakai seragam dengan corak Pring Sedapur setiap hari tertentu. Batik tulis bermotif serumpun bambu ini rata-rata dijual seharga Rp65 ribu hingga Rp300 ribu untuk berbagai
jenis kain. Pemasaran batik ini masih untuk pasar lokal, namun ada juga beberapa yang datang dari luar Magetan seperti Lamongan, Surabaya, dan Yogyakarta.
Bagaimana? Anda tertarik untuk membeli batik ini?
http://www.kriyalea.com/serba-serbi-batik-sidomukti-khas-magetan/
www.kliswi.com
Kamis, 30 Agustus 2012
Pasar Pahing, Jalan Barat, Maospati, Magetan
Di
Jalan Barat, Maospati, Magetan ada sebuah pasar tumpah dan uniknya pasar ini buka
setiap seminggu sekali, tepatnya pada hari pasaran Pahing. Karena itulah pasar
ini kemudian dikenal sebagai Pasar Pahing. Di pasar yang beroperasi mulai dari
pukul setengah tujuh ini kita bisa menemukan berbagai macam barang dan jasa
yang ditawarkan, misalnya saja ada jasa menjahit baju, ada jasa yang mengisi
korek gas, ada jasa membetulkan lampu. Selain itu, ada juga yang menjual berbagai
barang seperti anakan ayam dan burung, buku buku, alat alat pertanian, baju dan
topi, tanaman cabe atau jati, dan masih banyak lagi. Semua pedagang tumpah ruah
di Jalan Barat, Maospati setiap Pahing, dan setiap ada pasar tumpah ini keadaan
jalan pun jadi ramai karena orang orang begitu antusias dengan hadirnya pasar
ini.
Pasar
utama dari Pasar Pahing ini terletak di sebelah utara depan Desa Mranggen Gang
3, dan di dalam pasar ini juga dijual berbagai hewan, seperti sapi maupun
kambing, juga ada juga yang menjual buku buku serta kalender. Pasar ini
beroperasi mulai pukul setengah 7 pagi hingga setengah 12 siang setiap
Pahingnya, dan para pedagang membuka lapak daganganya mulai dari Jalan Krido,
Mranggen gang 4 (sebelah utara) sampai di Jalan Glatik, Desa Maospati (sebelah
selatan). Kalau di hitung pasar Pahing ini buka setiap 5 hari sekali karena
hari dalam pasaran Jawa dengan hari dalam hitungan internasional berbeda 2
hari. Kalau dalam hari konvensional ada 7 hari, maka dalam pasaran Jawa hanya
ada 5 hari saja yaitu, Pahing, Pon, Wage, Legi dan Kliwon. Karena itulah pasar
ini buka setiap 5 hari sekali setiap minggunya.
Banyak
warga yang datang ke Pasar Pahing ini hanya sekedar untuk melihat lihat, ada
juga yang sengaja datang untuk membeli sesuatu atau membetulkan sesuatu. Semua
barang dan jasa yang dibutuhkan warga sekitar ada di pasar ini, karena itulah
warga sekitar yang berasal dari Desa Kraton, Desa Maospati, Desa Mranggen dan
desa desa yang lainya sangat antusias dengan hadirnya pasar ini, meski pasar
ini hanya ada seminggu sekali.
Jalan Barat, Maospati, Magetan
Jalan Barat Maospati adalah jalan
yang terbentang dari Kecamatan Maospati hingga ke Kecamatan Barat, menghubungkan
dua kecamatan yaitu Kecamatan Maospati dan Kecamatan Barat. Di jalan ini pula
terdapat desa desa yang terbentang, seperti Desa Maospati, Desa Sempol, Desa
Mranggen, Desa Karangsono, dan lain lain. Jalan ini dulunya sangat sempit, tapi
baru baru ini Jalan Barat telah dilebarkan hingga kendaraan pun bisa lebih
leluasa melewati jalan ini.
Di Jalan Barat Maospati sendiri
ada sebuah pasar hewan yang buka setiap Pahing, dan masyarakat pun menyebutnya
dengan Pasar Pahing. Di pasar ini ada berbagai pedagang yang menjual berbagai
macam barang, dan bukan hewan saja. Mereka biasa membuka lapaknya di sepanjang
Jalan mulai dari Jalan Glatik, Desa Maospati (sebelah selatan) hingga Jalan
Krido, Desa Mranggen (sebelah utara). Dan barang barang yang biasa dijual
diantaranya Barat sementara pasar utamanya sendiri ada di sebelah utara depan
Desa Mranggen Gang 3. Di pasar utamanya inilah dujual berbagai ternak seperti
sapi, dan kambing, sementara di sepanjang Jalan Barat penjual biasa menjual
berbagai barang seperti berbagai tanaman, binatang seperti kelinci, burung,
anak bebek dan lain lain serta ada juga yang menjual obat obatan serta buku
buku.
Meski jalan ini bukan jalan
provinsi, tapi jalan ini cukup ramai dilewati kendaraan bermotor karena jalan
ini juga menghubungkan ke jalan provinsi yaitu Jalan Raya Solo (sebelah
selatan) yang menghubungkan Surabaya
dan Solo. Jika dari Jalan Barat kita menuju ke arah selatan, maka kita akan
menuju ke Jalan Raya Solo, dan jika kita menuju ke timur, maka kita akan ke
arah Kota Madiun, dan jika kita ke arah barat, maka kita akan menuju ke arah
Kota Magetan. Karena itulah jalan Barat juga menjadi jalan penghubung dua kota yaitu Kota Magetan
dan Kota Madiun.
Sementara itu, di sebelah utara
Jalan Barat Maospati, masyarakatnya kebanyakan bekerja sebagai petani, juga ada
yang membuat genteng serta batu bata. Dan kalau kita melewati Jalan Barat sebelah
utara, maka kita akan melihat beberapa warga ada yang sedang membuat atau
sedang membakar genteng. Memang, jika semakin ke utara masyarakatnya pun juga
semakin tradisional, karena masyarakatnya yang rata rata bekerja sebagai petani
atau sebagai pembuat genteng dan batu bata. Tapi inilah salah satu potensi yang
ada di Jalan Barat sebelah utara yang bernilai ekonomis tinggi dan bila lebih
dikembangkan lagi mungkin disini akan menjadi sentra pembuatan genteng dan batu
bata di Magetan.
Demikianlah sekelumit pengetahuan
tentang Jalan Barat Maospati, Magetan. Semoga bisa berguna dan menambah
pengetahuan anda.
Senin, 27 Agustus 2012
Lirik Lagu Magetan Ngumandang
Kondang Mbangun Jiwa Ekonomi Lan Sosial Manembah Maha Kwasa Adhedhasar Pancasila
Hangumandhang Tansah Ngumandang
Saindheing Nusantara
Kawuryan Tansah Kaloka
Kutha Pariwisata
Pratani Nara Praja Lan Tamtama
Golong Tunggal Cipta Rasa Budi Lan Karsa
Gumregut Tumandhang Ambangun Negara
Kang Tumuju Marang Katentreman
Ngudi Karaharjan Sarta Kabudayan
Ing Kutha Lan Desa Magetan Ngumandang
http://www.youtube.com/watch?v=LUTFXz2I-VI&noredirect=1
Langganan:
Postingan (Atom)